Kamis, 22 Oktober 2009
TEGURAN "SATU" MENIT
Kamis, 08 Oktober 2009
BUNDA
Rabu, 07 Oktober 2009
ternyata KESABARANKU tak seberapa
Jumat, 21 Agustus 2009
10 Pohon Ramadhan
Ibarat sebuah tanaman, maka amaliyah Ramadhan adalah pohonnya. Mediumnya adalah bulan Ramadhan. Pohon apa yang kita tanam di medium Ramadhan, itulah yang akan kita petik, itulah yang akan kita nikmati. Karena “siapa menanam dia yang menuai”.
Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?
Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:
Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?
Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?
Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.
Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.
“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.”Begitu penegasan Rasulullah saw.
Pohon kedua, sahur. Sahur tidak pengganti sarapan pagi, bukan juga penambah makan malam. Namun sahuryang penuh berkah, yang dilakukan diakhir jelang waktu fajar. Di sinilah waktu-waktu yang sangat mahal, doa dikabulkan, permintaan dipenuhi. Sehingga ketika melaksanakan sahur tidak tidak sambil nonton hiburan, tayangan yang melenakan, oleh media elektronik. Sibukkan diri dan keluarga kita dengan mensyukuri nikmat Allah dengan bersama-sama melaksanakan sunnah sahur ini dengan penuh hikmat dan kekeluargaan.
“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” Begitu sabda Rasulullah saw. mengajarkan.
Pohon ketiga, ifthar. Buka puasa. Sunnah buka puasa itu disegerakan. Ketika dengar kumandang adzan Maghrib, segera lakukan buka puasa. Jangan tunda, jangan sok kuat, nanti bakda tarawih saja, bukan.
Dengan apa kita ifthar? Sunnahnya dengan ruthab atau kurma muda. Berapa biji? Bilangan ganjil satu atau tiga biji. Kalau tidak ada, seteguk air putih. Itu yang dilakukan Rasulullah saw. bukan dengan memakan aneka hidangan, ragam makanan, bukan. Dan Rasulullah saw. pun baru makan besar setelah shalat tarawih.
Ifthar bukan ajang balas dendam, seharian manahan lapar, ketika bedug Maghrib, seakan ingin melampiaskan rasa laparnya dengan memakan semua yang ada. Perilaku ini tentu tidak akan membawa dampak perubahan dalam kehidupan pelakunya. Justeru dengan berlapar-lapar sambil merenungkan hikmah shaum dan menjadi bukti kesyukuran adalah sebagian dari target berpuasa. Sehingga dengan sadar dan hikmat kita berdoa saat berbuka:
“Yaa Allah, kepada-Mu aku shaum, dengan rizki-Mu aku berbuka, telah hilang rasa haus-dahagaku, kerongkongan telah basah, karena itu tetapkan pahala bagiku, insya Allah.”
Pohon keempat, tarawih. Tarawih berasal dari akar kata “raaha-yaruuhu-raahatan-watarwiihatan- yang artinya rehat, istirahat, santai. Sehingga shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan dengan thuma’ninah, santai,khusyu’ dan penuh penghayatan, bukan hanya sekedar mengejar target bilangan rekaatnya saja, mau delapan, dua puluh, empat puluh, silahkan dikerjakan, asal memperhatikan rukun, wajib, dan sunnah shalat.
Kalau kita disuruh memilih, apakah shalat tarawih di masjid yang dalamnya dibaca “idzaa jaa’a nashrullahi wal fathu” atau shalat tarawih di masjid yang baca “idzaa jaa’akal munaafiquna qaaluu nasyhadu innaka larasuuluh…” Pilih mana?
Kita tidak dalam posisi membandingkan surat yang dibaca, semua adalah surat dalam Al-Qur’an, namun kita ingin membandingkan sikap kita, apa kita pilih yang panjang-panjang namun khusyu’ atau pilih yang pendek-pendek namun secepat kilat.
Umat muslim harus berani mengevaluasi diri dalam hal pelaksanaan shalat tarawih ini. Sebab, sudah kesekian kali kita melaksanakan shalat tarawih dalam hidup kita, namun kita belum bisa meresapi, merenungkan dan mendapatkan manisnya shalat, bermunajat kepada Allah swt. secara langsung.
Bukankah Rasulullah saw. meneladankan kepada kita, bahwa beliau shalat tarawih, di reka’at pertama setelah beliau membaca surat Al-Fatihah, beliau membaca surat Al-Baqarah sampai selesai, para sahabat mengira beliau akan ruku’, namun beliau melanjutkan membaca surat An-Nisa’ sampai selesai, para sahabat kembali mengira beliau akan ruku’, namun kembali beliau membaca surat Ali-Imran sampai selesai, baru beliau ruku’. Sedangkan ruku’, i’tidal dan sujud beliau lamanya seperti beliau berdiri rekaat pertama. Subhanallah!
Tentu kita tidak sekuat Rasulullah saw. namun yang kita teladani dari beliau adalah pelaksanaannya, dengan cara yang thuma’ninah, khusyu’ dan penuh tadabbur.
Pohon kelima, tilawatul Qur’an. Membaca Al-Qur’an. Atau yang populer adalah tadarus Al-Qur’an. Tadarus tidak hanya dilakukan di bulan suci ini, juga dilakukan setiap hari di luar Ramadhan, namun pada bulan suci initadarus lebih dikuatkan, ditambahkan kuantitas dan kualitasnya. Setiap malam, Rasulullah saw. bergantian bertadarus dan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan malaikat Jibril.
Imam Malik, ketika memasuki bulan suci Ramadhan meninggalkan semua aktivitas keilmuan atau memberi fatwa. Semua ia tinggalkan hanya untuk mengisi waktu Ramadhannya dengan tadarus.
Imam Asy-Syafi’i, si-empunya madzhab yang diikuti di negeri ini, ketika masuk bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali, sehingga beliau khatam Al-Qur’an 60 kali selama sebulan penuh.Subhanallah!
Kita tidak perlu mendebat, apakah itu mungkin? Bagaimana caranya beliau bisa melakukan hal itu? Esensi yang jauh lebih penting adalah, semangat dan mujahadah yang kuat itulah yang mesti kita miliki dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Pohon keenam, ith’aamul ifthor. Memberi berbuka puasa. Jangan diremehkan memberi berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, baik langsung maupun lewat masjid. Walau hanya satu butir kurma, satu teguk air, makanan, minuman dan lainnya. Sebab, nilai dan pahalanya sama seperti orang yang berpuasa yang kita kasih berbuka itu. Di negara-negara Timur-Tengah, tradisi dan sunnah memberi buka puasa ini sangat kental. Hampir-hampir setiap rumah membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kerabat, musafir, tetangga, sahabat, untuk berbuka bersama dengan mereka.
Kita jadikan memberi buka bersama ini sebagai sarana menebar kepedulian, kekeluargaan, keakraban, dengan sesama, lebih lagi sebagai sarana fastabiqul khairat.
Pohon ketujuh, i’tikaf. Melaksanakan i’tikaf 10 hari akhir Ramadhan. Inilah amalan sunnah muakkadah yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw. semasa hidupnya. Lebih dari 8 atau 9 kali beliau beri’tikaf di bulan suci ini, bahkan di tahun di mana beliau meninggal, beliau beri’tikaf 20 hari akhir Ramadhan. Beliau membangunkan istri-sitrinya, kerabatnya untuk menghidupkan malam-malam mulia dan mahal ini. (baca i’tikaf)
Pohon kedelapan, taharri lailatail qadar. Memburu lailatul qadar. Usia rata-rata umat Muhammad adalah 60 tahun, jika lebih, itu kira-kira bonus dari Allah swt. Namun usia yang relatif pendek itu bisa menyamai nilai dan makna usia umat-umat terdahulu yang bilangan umur mereka ratusan bahkan ribuan tahun. Bagaimana caranya? Ya, dengan cara memburu lailatul qadar, sebab orang yang meraih lailatul qadar dalam kondisi beribadah kepada Allah swt., berarti ia telah berbuat kebaikan sepanjang 1000 bulan atau 84 tahun 3 bulan penuh. Jika kita meraih lailatul qadar sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya, maka nilai usia dan ibadah kita bisa menyamai umat-umat terdahulu.
Rahasia inilah yang di yaumil akhir kelak, umat Muhammad saw. dibangkitan dari alam kubur terlebih dahulu, dihisab terlebih dahulu, dimasukkan ke surga terlebih dahulu, dan juga dimasukkan ke neraka terlebih dahulu,waliyadzu billah.
“Pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang dari kebaikan.” (H.R. Ahmad)
Pohon kesembilan, umroh. Melaksanakan ibadah umroh dibulan suci Ramadhan, terutama 10 akhir Ramadhan. Sebab melaksanakan umroh di bulan suci ini seperti malaksanakan ibadah haji atau ibadah haji bersama Rasulullah saw.
“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat yang lain: “Sebanding haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pohon kesepuluh, menunaikan ZISWAF, yaitu mengeluarkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. ZISWAF adalah merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah, ibadah yang terkait dengan harta dan berdampak pada manfaat sosial. Mengeluarkan ZISWAF tidak hanya bulan suci Ramadhan, kecuali zakat fitrah yang memang harus dikeluarkan sebelum shalat iedul fitri, sedangkan zakat-zakat yang lain, sedekah dan infaq dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun karena bulan Ramadhan menjanjikan kebaikan berlipat, biasanya kesempatan ini tidak disia-siakan umat muslim, sehingga umat muslim berbondong-bondong menunjukkan kepeduliannya dengan berZISWAF. Tentu dilakukan dengan baik, benar dan tidak memakan korban. Lebih baik lagi jika disalurkan lewat Lembaga Amil Zakat yang memang mengelola dana-dana umat ini sepanjang hari, tidak hanya tahunan.
Berbicara tentang potensi ZISWAF di negeri ini sangatlah besar jumlah, setiap tahunnya potensi ZISWAF itu 19, 3 Trilyun Rupiah. Subhanallah, dana yang tidak sedikit yang jika bisa digali, diberdayakan, maka ekonomi umat Islam akan lebih baik.
Inilah 10 pohon Ramadhan, “Siapa menanamnya ia akan menuai”, biidznillah. Allahu a’lam
Senin, 17 Agustus 2009
MERDEKA.....................
Rabu, 05 Agustus 2009
Allohumma ballighnaa fii ramadhan (ya Allah sampaikan aku di bulan ramadhan).....
Minggu, 26 Juli 2009
Nikmat Allah...........
Jumat, 27 Februari 2009
Menggapai CINTA ALLAH
Rabu, 18 Februari 2009
karena MENULIS = PROSES
Selasa, 10 Februari 2009
Menjadi WONDER PARENTS
Nah itulah yang ingin dikupas pada tulisan kali ini. Wonder kids adalah pasti harapan setiap orang tua, mereka sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang luar biasa, anak yang wonder.
1. kekuatan paradigma
Minggu, 25 Januari 2009
BUAH KESABARAN
Ketika ia dipersilakan untuk memulai acara, sang kakek mengambil dua buah batu dan memukulkan keduanya sehingga terdengar suara tok......tok......tok. Hal itu ia lakukan selama kurang lebih satu jam.Para pendengar disekitarnya mulai gerah dan sebagian dari mereka keluar dari ruangan tersebut.
Sang kakek meneruskan aktivitasnya ia pukul-pukulkan lagi kedua batunya sehingga terdengar bunyi tok.....tok......tok.....Hal itu ia lakukan kurang lebih satu jam hingga pendengar yang tersisa separuh itupun gerah dengan ulah si kakek, sebagian dari mereka keluar dari ruangan hingga tersisa hanya beberapa orang saja. Sang kakek masih melakukan aksinya hingga beberapa jam berlangsung terpecahlah kedua batu itu.
Ketika terpecah, keluarlah dari kedua batu itu berlian yang berkilauan dan membuat takjub para peserta yang tersisa.
Itulah arti sebuah kesabaran. Bahwa kebaikan dan kemenangan akan diperoleh melalui perjuangan yang menuntut kesabaran. Anda akan kalah jika anda tidak memiliki kesabaran.
Dakwah ini jalan panjang
penuh onak dan rintangan
namun jua kau lalui
tuk Ilahi....... (Izzatul islam)
Sabtu, 24 Januari 2009
MENGAPA harus ada kisah PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Sebuah film yang bercerita tentang seorang wanita yang ingin mengubah sebuah sistem, sebuah nilai tentang wanita. Dialah Annisa yang diperankan oleh Revalina S. Temat seorang perempuan anak seorang kyai dengan latar belakang pondok pesantren yang ingin membuktikan bahwa wanita juga punya hak, punya kemampuan untuk bisa berkembang, untuk bisa berprestasi di masyarakat, serta mampu menggapai cita-cita yang tinggi.
Yang ingin saya tanyakan adalah mengapa harus ada kisah Perempuan Berkalung Sorban? dan mengapakah harus berlatar belakang pondok pesantren yang seolah-olah itu adalah bagian dari nilai islam?apakah memang masih ada nilai yang berkembang tentang perempuan yang mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari laki-laki?
Jika kita telisik lebih jauh sejarah 1430 tahun silam tentang kehidupan seorang manusia agung, manusia pilihan, guru dari seluruh umat manusia Rasulullah SAW, tentang bagaimana pelajaran yang Beliau ajarkan tentang wanita................
Rasulullah mengajarkan kepada seluruh umat manusia tentang kedudukan seorang wanita yang amat tinggi, bahkan tak jarang beliau membawa serta para wanita untuk ikut dalam peperangan, untuk ikut memikirkan kebijakan dalam mengambil sebuah keputusan.
Ingatkah kita tentang kisah Asma Binti Abu Bakar yang memiliki peranan penting dalam hijrah rasulullah SAW, Asma ra dalam keadaan hamil besar harus naik turun menyusuri bukit demi mendukung hijrahnya Rasulullah...apakah itu tidak memberikan pelajaran bagi kita?
Ingatkah kita tentang kisah khadijah Ummul mu'minin yang merupakan seorang saudagar kaya serta wanita cerdas di zamannya yang mampu membesarkan hati Rasulullah ketika pertama kali Beliau menerima Wahyu Allah melalui malaikat jibril, tidak cukupkah itu menjadikan pelajaran yang berati bagi kita.
Ingatkah kita pada kisah Ummu Salamah istri Rasulullah SAW yang memiliki peran dalam perjanjian Hudaibiyah antara Kaum muslim dengan kaum musyrikin Quarisy betapa kecerdasannya mampu memberikan kontribusi bagi umat muslim saat itu...
Dan ingatkah kita tentang kisah wanita-wanita muslim saat itu yang ikut berperang bersama Rasulullah....Aisyah ummul mu'minin yang sangat cerdas yang mampu meriwayatkan banyak hadist melaluinya.
Apakah masih dapat dikatakan bahwa wanita itu lemah?bahwa wanita memiliki kedudukan lebih rendah?wanita tak mampu berkiprah?
Namun yang harus dipahami bersama, disepakati bersama adalah bahwa wanita memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, bahkan SURGA ADA DI TELAPAK KAKI IBU. dan wanita pula yang harus menjaga kemuliaan tersebut. Serta harus dipahami bahwa wanita memiliki kodrat yang tidak dimiliki oleh laki-laki tanpa harus merendahkan wanita dihadapan laki-laki. Bukankah mengandung hanya bisa terjadi pada wanita dan apakah itu sebuah kerendahan?tentu bukan bahkan itu adalah jalan surga bagi seorang wanita. apakah menjadi istri, menjadi ibu adalah sebuah kerandahan? itu adalah kedudukan yang teramat mulia.
Mari kita pandang kedudukan seorang wanita maupun laki-laki secara proporsional, untuk saling memuliakan diantara keduanya karena sesungguhnya seorang laki-laki tak akan mampu hidup TANPA SEORANG WANITA.
Kamis, 01 Januari 2009
BELAJAR, BELAJAR, DAN BELAJAR
Di rumah belajar.....dimanapun belajar....
Tak ada habisnya dalam belajar karena pasti selalu ada yang baru yang harus kita pelajari dalam hidup ini meski melalui aktivitas rutin sekalipun selalu ada yang baru..
seperti blog ini yang juga baru yang dijadikan ajang belajar bagi si pemiliknya. dan inipun dunia yang baru bagi saya yang juga baru mengenal blog....bullet ya, namanya juga baru ya memang baru belajar.
salam kenal dan selamat belajar untuk semua. ingat........
JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR.